
Sumber Gambar : siebersaudara.wordpress.com
Ketika sedang menghadapi banjir, kemampuan mengendalikan mobil saja tak cukup untuk melintasi genangan air.
Dibutuhkan pula perilaku mengemudi yang bisa membantu Anda melewati jalan yang tergenang air.
Rifat Sungkar, pembalap nasional sekaligus pendiri sekolah mengemudi Rifat Drive Labs, menjelaskan, keputusan pengemudi sangat memengaruhi keselamatan berkendara di saat Hujan.
“Berkendara di musim Hujan, tentu kecepatan kita hanya setengah dari biasanya atau di musim kering, teorinya seperti itu. Tapi kenyataannya, kalau sedang terburu-buru kadang hal itu tidak terjadi,” kata Rifat dalam diskusi keselamatan berkendara pekan lalu.
Sebelum memberannikan diri menerjang banjir, Rifat mengatakan jika pengemudi harus memperhatikan ketinggian posisi saluran isap udara mesin.
Menyepelekan menerobos banjir asal knalpot tidak kemasukan air dianggap kurang tepat, air tidak masuk ke saluran isap lebih penting karena diibaratkan seperti “hidung” mobil.
Sama seperti manusia ketika menyelam, yang seharusnya ditutupi adalah hidung agar tidak kemasukan air.
Pada mesin kendaraan, air yang masuk proses pembakaran lewat saluran isap bisa mengakibatkan water hammer.
“Ini jadi tanggung jawab semua pengguna mobil agar tahu di mana air intake-nya (saluran isap),” terang juara nasional reli delapan kali ini.
Bila sedang terkena banjir, mobil Toyota yang sudah berusia lanjut ataupun masih terbilang baru akan mendapatkan resiko yang sama.
“Banjir itu enggak ada obatnya, sejago-jagonya orang bawa mobil pasti kalah sama banjir. Jadi kalau banjir, pelan-pelan,” lugas pria 36 tahun yang sedang menunggu kelahiran anak kedua ini.
Nah, jika sudah tahu tips hadapi banjir dengan merubah cara berkendara Anda, sebaiknya pertimbangkan baik-baik untuk menerjang banjir dengan mobil Toyota Anda.
Sumber: www.kompas.com

0 comments:
Post a Comment